Farizki Raja Lele

Jual Beli Benih dan Pakan Lele

Slide 1 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 2 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 3 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 4 Title Here

Your Description Here..................................

Slide 5 Title Here

Your Description Here..................................

Jenis-Jenis Pakan Lele

02.01 |

1. Pakan berjenis pelet


Pelet merupakan pakan ikan lele yang bisa sangat mudah kita jumpai, banyak di toko pertanian dan peternakan dapat kita jumpai jenis pakan ini. Banyak yang membuat dan menjual pelet, tetapi yang akan kita pilih adalah pelet buatan pabrikan karena mengandung campuran dari berbagai macam tepung (terigu, ikan, tulang, daging) bungkil kedelai dan kelapa, mineral, dedak, minyak dan tambahan beberaoa vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan lele.

Pakan Ikan Lele Bersifat Mengapung

Pelet tersedia 2 macam yaitu pelet mengapung dan pelet tenggelam, kedua juga bagus untuk pembesaran ikan lele, dengan bersifat mengapung membuat lele harus menjemput kepermukaan air sedangkan tenggelam mereka hanya berebut pakan di dangkal kolam. Jadi menurut saya boleh boleh saja memilih diantara kedua jenis pelet ini karen seperti yang kita ketahui, pelet buatan pabrik kaya akan gizi yang berguna untuk ikan lele.

Pakan Ikan Lele Bersifat Tenggelam

Tetapi saya menganjurkan untuk Anda para pembudidaya ikan lele untuk memilih pakan mengapung, kenapa? karena pakan ini mengandung protein yang lebih tinggi dari pelet yang berkarakter tenggelam. Tentunya protein ini sangat diperlukan oleh ikan lele untuk mempercepat pertumbuhan dan masa panen, Sedangkan pelet pabrikan yang tenggelam saya anjurkan untuk memerikan pada masa menjelang panen/lele sudah dewasa.

2. Beberapa pakan tambahan
Pakan tambahan ikan lele memang tidak bersifat sangat penting, tapi bukan berarti tidak penting. Pakan tambahan ini sering diberikan oleh para suksesor pembudidaya ikan lele dua minggu sebelum panen. Pakan tambahan yang akan kita berikan juga yang mengandung protein tinggi, dengan catatan pakan tambahan tidak banyak menguras kantong kita.
Pakan tambahan yang bagus adalah yang barbau daging seperti ayam tiren atau ikan murah yang dijual disapasaran, ikan ini yang tidak layak untuk dikonsumsi dan banyak digunakan untuk pemberian itik petelur. Ikan seperti ini bisa kita dapat melalui TPA (tempat pelelangan ikan).
Pakan tambahan tersebut sangat bagus diberikan saat ikan lele menjelang panen, untuk mempercepat pertumbuhan dan membuat daging lebih lezat tentunya.

3. Jenis Pakan Alami

Pakan alami untuk ikan lele sangatlah banyak dan kita tidak perlu membelinya ditoko, pakan ini juga mengandung protein yang tinggi dan tentunya disukai dan berguna untuk mempercepat masa pemanenan. Pakan alami yang saya maksud adalah seperti cacing sutera, cacing tanah, kutu air, jentik nyamuk, dan lain sebagainya masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Nah, untuk memberi tambahan pakan tambahan bersifat alami ini bisa melalui mikroorganisme lain yang tumbuh didalam air kolam, dan hal ini tentunya tidak dapat hidup begitu saja, karena jika ingin membuat tumbunya mikroorganisme harus dilakukan pengomposan kolam, dan hal itu tentunya sudah kita siapkan sebelum pendederan benih ikan lele.
Untuk membuat mikroorganisme ini tumbuh, sebaiknya kita tidak melakukan penggantian air kolam, dan hanya memambahi volume air jika sudah berkurang karena penguapan saja.

Aturan Yang benar Pemberian Pakan Lele

  1. Pemberian pakan untuk pelet berjenis mengapung :
·         Pelet berjenis mengapung sebelum diberikan harus diberi sedikit air, tempatkan pelet alam wadah an beri sedikit air lalu diaduk secara merata dan diamkan 20 menit sebelum pakan diberikan. Hal ini tentunya untuk membuat pelet lebih kenyal dan mudah untuk dikosumsi si ikan lele.
·          Tebarkan secara merata di keseluruhan kolam, berikan perlahan agar kita dapat melihat berapa lama ikan-ikan kita menghabiskan pelet tersebut. Hentikan jika lele sudah lamban menjemput makanan, telihat air tenang dan lele tidak berebut makanan. Dengan kata lain jangan hentikan penebaran pakan sebelum semua lele tenang (kenyang).
  1. Pemberian pakan untuk pelet berjenis tenggelam :
·         Tidak perlu mebahasi pakan (pelet) yang berjenis tenggelam (langsung berikan)
·         Tebarkan pelet/pakan disatu titik, dan itu bertujuan agar lele mengetahui jika tempat Anda biasa meberi pakan, dan selanjutnya dia akan menghafal tempat itu. Jangan hentikan pemberian pakan sebelum lele kenyang (air tenang tidak ada yang berebut pakan.

Waktu Yang Benar Untuk Pemberian Pakan Ikan Lele

Agar pertumbuhan lele normal dan cepet besar, pemberian pakan harusnya dilakukan 4 sampai 6 kali memberi pakan dengan pembagian waktu :
  • -4 kali sehari dengan pembagian yaitu pukul : 09.00, 13.00, 17.00, 21.00
  • 6 kali sehari dengan pembagian yaitu pukul : 09.00, 12.00, 15.00, 17.00, 19.00, 21.00
  • Pemberian pakan terserah kita ingin memilih jadwal pemberian yang mana dari pembagian waktu diatas, tetapi Anda harus konsisten memlilih salah satu diantaranya sampe lele memasuki waktu panen.
Beberapa Larangan Pemberian Pakan Ikan Lele
  • Harus ditak memberi pakan berlebihan karena pakan yang tersisa akan menyatu dengan air menjadi amoniak yang bahaya dan dapat meracuni lele bahkan mematikan.
  • Jangan pernah mengobok-obok kolam dalam waktu apapun, jika berkepentingan untuk mengambil ikan untuk dimasak, gunakan cara pemancingan agar lele yang lain tidak stres, mengobok-obok air membuat lele stres dan susah untuk tumbuh besar.
  • Disaat sedang turun hujan jangan pernah memberi pakan ikan lele.
  • Jangan memberi pakan saat waktu masih sangat pagi (fajar) menurut penelitian hal ini dapat menyebabkan lele terkena radang insang  dan bisa memperlambat pertumbuhan lele atau bahkan kematian.

Demikian jenis pakan ikan lele dan cara pemberian yang benar, diatas adalah langkah mudah yangmembantu Anda agar sukses dalam dunia budidaya ikan lele, jadi kesimpulan suksesnya seorang wirausaha ikan lele ini adalah "pakan", pakan menjadi hal penting dalam hidup ikan lele. Pemilihan pakan yang baik yang mengandung proteon tinggi sangat bagus untuk pertumbuhan ikan lele, selain itu tentunya pemberian pakan juga harus beraturan sesuai jadwal pembagian yang saya sebutkan diatas. Maju terus para pengusaha ikan lele!!
Read More

Cara Pemesanan

02.17 |

Tulis Pemesanan Sebagai Berikut :
Nama Anda :
Alamat Lengkap :
Jenis Lele :
Jumlah Lele :
Ukuran Lele :
No. Telepon :
Pengiriman Via :
Kirim ke 082141675368 atau ke annazarfarizki.af.af@gmail.com
Read More

Cara Pemeliharaan Telur dan Larva Ikan Lele

02.10 |

Induk ikan lele yang telah memijah akan mengeluarkan telurnya pada keesokan harinya. Stadia telur merupakan output dari aktivitas pemijahan ikan, dimana pada saat menetas berubah menjadi stadia larva. Telur ikan lele bersifat melekat (adesif) kuat pada substrat, karena telur ikan lele tersebut memiliki lapisan pelekat pada dinding cangkangnya dan akan menjadi aktif ketika terjadi kontak dengan air, sehingga dapat menjadi rusak/koyak ketika dicoba untuk dicabut. Kekuatan pelekatan tersebut akan menjadi berkurang sejalan dengan perkembangan telur (embriogenesis) hingga menetas. Oleh karena itu, untuk mengurangi faktor kerusakan/kegagalan telur dalam proses penetasan, induk ikan lele yang telah memijah diangkat dan dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan induk kembali.
Telur- telur ikan lele yang telah terbuahi ditandai dengan warna telur kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur-telur yang tidak terbuahi berwarna putih pucat atau putih susu. Lama waktu perkembangan hingga telur menetas menjadi larva tergantung pada jenis ikan dan suhu. Pada ikan lele, membutuhkan waktu 18-24 jam dari saat pemijahan.

Penyesuaian Kondisi Suhu

Selain oksigen, faktor kualitas air yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan penetasan telur adalah suhu. Sampai batas tertentu, semakin tinggi suhu air media penetasan telur maka waktu penetasan menjadi semakin singkat. Akan tetapi, telur menghendaki suhu tertentu (suhu optimal) yang memberikan efisiensi pemanfaatan kuning telur yang maksimal, sehingga ketika telur menetas diperoleh larva yang berukuran lebih besar dengan kelengkapan organ yang lebih baik dan dengan kondisi kuning telur yang masih besar. Pada ikan lele, suhu optimum yang baik untuk penetasan telur adalah sekitar 29-31o C.

Penyediaan Oksigen Terlarut

Selama proses penetasannya, telur-telur tersebut membutuhkan suplai oksigen yang cukup. Oksigen tersebut masuk ke dalam telur secara difusi melalui lapisan permukaan cangkang telur. Kebutuhan oksigen optimum untuk kegiatan penetasan telur ikan lele adalah > 5 mg/L. Oksigen tersebut dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu (1) memberikan aerasi dengan bantuan aerator; (2) menciptakan arus laminar dalam media penetasan telur; (3) mendekatkan telur kepermukaan air, karena kandungan oksigen paling tinggi berada dibagian paling dekat dengan permukaan air. Selain oksigen, untuk keperluan perkembangan, diperlukan energy yang berasal dari kuning telur (yolk sac) dan kemudian butir minyak (oil globule). Oleh karena itu, kuning telur terus menyusut sejalan dengan perkembangan embrio. Energi yang terdapat dalam kuning telur berpindah ke organ tubuh embrio.

Pencegahan Serangan Penyakit pada Telur

Telur- telur ikan lele akan menetas dalam waktu 18-24 jam setelah pemijahan terjadi. Embrio terus berkembang dan membesar sehingga rongga telur menjadi sesak olehnya dan bahkan tidak sanggup lagi mewadahinya, maka dengan kekuatan pukulan dari dalam oleh pangkal sirip ekor, cangkang telur pecah dan embrio lepas dari kungkungan menjadi larva. Pada saat itu telur menetas menjadi larva. Untuk memperlancar proses penetasan, air sebagai media penetasan telur diusahakan terbebas dari mikroorganisme melalui beberapa upaya, yaitu (1) mengendapkan air untuk media penetasan telur selama 3-7 hari sebelum digunakan; (2) menambahkan zat antijamur seperti methylen blue, kedalam media penetasan; (3) menyaring dan menyinari air yang akan digunakan untuk penetasan dengan menggunakan sinar ultraviolet (UV); (4) menggunakan air yang bersumber dari mata air atau sumur. Setelah semua telur menetas, maka untuk menghindari adanya penyakit akibat pembusukan telur yang tidak menetas, kakaban/substrat tempat pelekatan telur ikan lele diangkat dari wadah penetasan dan untuk memperbaiki kualitas air pemeliharaan larva, maka dilakukan pergantian air sebanyak ¾ dari volume wadah. Pergantian air dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi air menjadi baik, sehingga layak dijadikan sebagai media pemeliharaan larva.

Pengelolaan Kualitas Air Larva

Larva yang telah menetas biasanya berwarna hijau dan berkumpul didasar bak penetasan. Untuk menjaga kualitas air, maka sebaiknya selama pemeliharaan dilakukan pergantian air setiap 2 hari sekali sebanyak 50-70 %. Pergantian air ini dimaksudkan untuk membuang kotoran, seperti sisa cangkang telur atau telur yang tidak menetas dan mati. Kotoran-kotoran tersebut apabila tidak dibuang akan mengendap dan membusuk di dasar perairan yang menyebabkan timbulnya penyakit dan menyerang larva. Pembuangan kotoran tersebut dilakukan secara hati-hati agar larva tidak stress atau tidak ikut terbuang bersama kotoran.

Pemberian Pakan Larva

Larva ikan lele hasil penetasan memiliki bobot minimal 0,05 gram dan panjang tubuh 0,75-1 cm, serta belum memiliki bentuk morfologi yang definitif (seperti induknya). Larva tersebut masih membawa cadangan makanan dalam bentuk kuning telur dan butir minyak. Cadangan makanan tersebut dimanfaatkan untuk proses perkembangan organ tubuh, khususnya untuk keperluan pemangsaan (feeding), seperti sirip, mulut, mata dan saluran pencernaan. Kuning telur tersebut biasanya akan habis dalam waktu 3 hari, sejalan dengan proses perkembangan organ tubuh larva. Oleh karena itu, larva ikan lele baru akan diberi pakan setelah umur 4 hari (saat cadangan makanan didalam tubuhnya habis). Pakan yang diberikan berupa pakan yang memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva agar larva ikan lebih mudah dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan, pakan ikan juga bergerak sehingga mudah dideteksi dan dimangsa oleh larva, mudah dicerna dan mengandung nutrisi yang tinggi. Salah satu contoh pakan yang diberikan pada saat larva ikan lele tersebut berumur 4 hari adalah emulsi kuning telur. Pada saat lele berumur 6 hari, maka dapat diberikan pakan berupa Daphnia sp (kutu air), Tubifex sp (cacing sutra) atau Artemia sp. Pakan tersebut diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 5 kali dalam sehari dan agar tidak mengotori air pemeliharaan, maka diusahakan tidak ada pakan yang tersisa.

Jadwal Pemberian Pakan Larva Lele

  • Emulsi kuning telur: Hari ke 4-5
  • Artemia sp: Hari ke 6-13
  • Daphnia sp: Hari 12-17
  • Tubifex sp: Hari 17-21
Read More

Jenis-Jenis Ikan Lele yang Dibudidayakan

02.05 |

Jenis-jenis ikan lele budidaya
Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)

Ikan lele (Clarias Sp.) banyak tersebar di perairan Asia dan Afrika. Jenis ikan lele sangat banyak, namuj tidak semuanya cocok untuk dibudidayakan dan dikonsumsi. Hanya dari jenis-jenis tertentu saja yang bisa dibudidayakan untuk tujuan konsumsi.
Jenis-jenis ikan lele yang dibudidayakan biasanya memiliki sifat unggul seperti pertumbuhan cepat dan tahan terhadap penyakit. Selain itu, ia harus bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mempunyai kepadatan tinggi dan kondisi air minim.
Ikan lele banyak hidup di perairan air tawar hingga air payau. Beberepa peternak lele di Pantura Jawa berhasil membudidayakan ikan lele di tambak bekas bandeng dan udang. Pada dasarnya, lele hidup secara nocturnal, aktif bergerak di malam hari. Di perairan bebas lele berada di tempat-tempat air tergenang yang cenderung tenang seperti rawa, danau dan daerah sungai yang agak terlindung. Biasanya ikan ini memilih tempat-tempat yang teduh dan membuat lubang-lubang ditanah.
Ikan lele termasuk pada jenis ikan karnivora atau pemakan daging. Di alam ikan ini menyantap cacing, kutu, larva serangga dan siput air.  Pada keadaan tertentu ia bisa memangsa sesamanya alias kanibal. Biasanya, lele menjadi kanibal karena tak ada makanan lain dan faktor perbedaan ukuran. Lele yang lebih besar akan memangsa kawanan yang lebih kecil.
Ikan lele berkembang biak dengan telur, dan telurnya dibuahi secara eksternal. Musim perkembangbiakan lele secara massal terjadi diawal musim hujan. Dibeberapa kasus masih membiak sepanjang musim hujan. Ikan lele memijah didorong oleh faktor kelimpahan air dan kualitas air, dimana pada musim hujan air cukup banyak dan kualitasnya lebih baik. Lele juga memijah ketika ada rangasangan berupa bau tanah. Tanah yang terjemur kemudian terendam air akan mengeluarkan bau khas yang merangsang ikan memijah. Kondisi ini biasanya terjadi saat hujan tiba.

Di Indonesia, setidaknya terdapat dua spesies ikan lele yang biasa dibudidayakan masyarakat. Yaitu spesies Clarias Batrachus dan Clarias Gariepinus. Dari dua spesies ini, ada beberapa lele yang dikategorikan unggul yaitu lele dumbo, lele sangkuriang dan lele phyton. Setiap jenis lele tersebut memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Berikut penjelasan dari jenis-jenis lele budidaya di Indonesia.

 

 1. Ikan lele lokal

Jenis-jenis ikan lele budidaya
Lele lokal. (Foto: Wikipedia)
Ikan lele lokal memiliki nama latin Clarias Batrachus, merupakan jenis lele yang dikenal luas di masyarakat. Sebelum lele dumbo diperkenalkan di Indonesia, para peternak biasa membudidayakan ikan lele jenis ini. Namun saat ini sangat jarang peternak yang membudidayakan jenis lele lokal karena dipandang kurang menguntungkan. Lele lokal memiliki Food Convertion Ratio (FCR) yang tinggi, artinya rasio pakan yang diberikan terhadap berat daging yang dihasilkan tinggi. Perlu lebih dari satu kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram daging dalam satu siklus budidaya. Selain itu, pertumbuhan lele lokal terbilang sangat lambat. Lele lokal yang berumur satu tahun masih kalah besar dengan lele dumbo berumur 2 bulan!
Terdapat tiga jenis lele lokal yang ada di Indonesia, yaitu lele hitam, lele putih atau belang putih dan lele merah. Diantara ketiga jenis lele itu, lele hitam paling banyak dibudidayakan untuk konsumsi. Sedangkan lele putih dan merah lebih banyak dibudidayakan sebagai ikan hias. Lele lokal memiliki patil yang tajam dan berbisa, terutama pada lele muda. Apabila menyengat, racun yang terdapat pada patil bisa membunuh mangsanya dan bagi manusia bisa membuat bengkak dan demam.

2. Ikan lele dumbo

Jenis-jenis ikan lele budidaya
Lele dumbo. (Foto: Wikipedia)
Ikan lele dumbo pertama kali didatangkan ke Indonesia dari Taiwan pada tahun 1985. Ikan ini menjadi favorit dikalangan peternak karena pertumbuhannya yang cepat dan badannya yang bongsor dibandingkan dengan lele lokal. Sebagai perbandingan, lele dumbo berumur 2 bulan besar badannya bisa dua kali lipat dibanding lele lokal berumur satu tahun.
Menurut keterangan eksportirnya, lele dumbo merupakan hasil perkawinan antara Ikan lele asal Taiwan Clarias Fuscus dengan ikan lele asal Afrika Clarias Mosambicus. Namun keterangan lain menyebutkan lele dumbo lebih mirip dengan Clarius Gariepinus yang hidup di perairan Kenya, Afrika. Banyak literatur yang menggolongkan lele dumbo kedalam jenis yang kedua, termasuk artikel ini. Untuk pastinya, perlu penelaahan lebih lanjut dalam mengungkap asal-usul lele dumbo.
Dari sisi fisik, ikan lele dumbo bisa dibedakan dengan lele lokal dari warnanya yang hitam kehijauan. Lele dumbo juga akan bereaksi ketika terkejut atau stres, kulitnya berubah menjadi bercak-bercak hitam atau putih dan kemudian akan berangsur-angsur kembali ke warna awal. Lele dumbo memiliki patil seperti lele lokal, namun patilnya tidak mengeluarkan racun. Lele dumbo juga cocok dipelihara di kolam tanah karena tidak mempunyai kebiasaan membuat lubang. Secara umum, lele dumbo bisa tumbuh lebih cepat, lebih besar dan lebih tahan terhadap penyakit dibanding lele lokal. Namun dari sisi rasa, daging lele dumbo lebih lebih lembek. Sebagian orang menganggap daging ikan lele lokal lebih enak rasanya dibanding lele dumbo.

3. Ikan lele sangkuriang

Asal-usul ikan lele sangkuriang
Lele sangkuriang. (Foto: keboen-ikan.com)
Ikan lele sangkuriang resmi dilepas oleh Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2004. Penelitian ikan lele sangkuriang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPAT) Sukabumi sejak tahun 2002. Penelitian ini berawal dari kekhawatiran para peternak dengan menurunnya kualitas lele dumbo yang beredar di masyarakat. Penurunan disebabkan oleh kesalahan dalam menghasilkan benih dan penyilangan yang terjadi secara terus menerus. Hingga akhirnya diupayakan untuk mengembalikan sifat-sifat unggulnya dengan cara persilangan balik (back cross).
Ikan lele sangkuriang dihasilkan dari indukan betina lele dumbo generasi ke-2 atau F2 dan lele dumbo jantan F6. Induk betina merupakan koleksi BBPAT, keturunan F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985. Sedangkan indukan jantan merupakan keturunan F6 dari keturunan induk betina F2 itu. Penamaan Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang seorang anak yang bernama Sangkuriang yang mengawini ibunya sendiri. Sama seperti yang dilakukan BBPAT yang mengawinkan lele jantan F6 dengan induknya sendiri lele betina F2.
Dari hasil perkawinan ini ternyata didapatkan sifat-sifat unggul seperti kemampuan bertelur hingga 40.000-60.000 butir per sekali pemijahan. Jauh berbeda dengan kemampuan bertelur lele lokal yang berkisar 1.000-4.000 butir. Lele Sangkuriang juga lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara di air minim, dan kualitas daging yang lebih baik.
Hanya saja kelemahannya, peternak tidak bisa membenihkan lele Sangkuriang dari induk lele Sangkuriang. Apabila ikan lele Sangkuriang dibenihkan lagi, kualitasnya akan turun. Jadi pembenihan lele Sangkuriang harus dilakukan dengan persilangan balik.
Saat ini BBPAT sedang menggodok varian baru lele Sangkuriang, yaitu ikan lele Sangkuriang II. Jenis ini merupakan perbaikan dari Sangkuriang I. Ikan lele ini persilangan antara indukan jantan F6 Sangkuriang I dengan indukan betina F2 lele dari Afrika. Indukan lele Afrika dipilih karena ukurannya yang besar, bisa sampai 7 kilogram. Hal ini dipandang bisa memperbaiki sifat genetis lele Sangkuriang. Berdasarkan pemulianya, yaitu BBPAT, ikan lele Sangkuriang II pertumbuhannya lebih besar 10 persen ketimbang Sangkuriang dan bobotnya pun lebih bongsor.
Ikan lele sangkuriang II belum dilepas secara bebas. Pihak BBPAT masih melakukan uji multilokasi di daerah Bogor (Jawa Barat), Gunung Kidul (Yogyakarta), Kepanjen (Jawa Timur) dan  Boyolali (Jawa Tengah). Daerah tersebut memang dikenal sebagai sentra-sentra produksi lele nasional.

5. Ikan lele phyton

Jenis-jenis ikan lele budidaya
Lele phyton. (Foto: keboen-ikan.com)
Berbeda dengan varietas unggul lainnya yang biasanya ditemukan oleh para peneliti, ikan lele phyton ditemukan oleh para peternak lele di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada tahun 2004. Ikan lele phyton merupakan hasil dari silangan induk lele eks Thailand F2 dengan induk lele lokal. Sayangnya tidak diketahui apa spesies dari indukannya dan dari generasi keberapa indukan ikan lele lokalnya berasal. Menurut para penemunya, indukan didapat dari lele lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat secara turun temurun. Tapi berdasarkan beberapa literatur, lele phyton berasal dari induk betina lele eks Thailand F2 dengan induk jantan lele dumbo F6.
Ikan lele phyton mempunyai ketahanan terhadap cuaca dingin, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) lebih dari 90%. Sementara itu, FCR mencapai 1, artinya satu kilogram pakan menjadi satu kilogram daging dihitung mulai benih ditebar sampai panen dengan siklus pemeliharaan selama 50 hari.
Pada awalnya proyek Ikan lele phyton ini dilakukan untuk menjawab keluhan para peternak lele di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang. Mereka sering mengalami kerugian karena tingkat mortalitas yang tinggi dari benih lele yang dibeli dipasaran, seperti lele dumbo. Benih lele tersebut rupanya tidak cocok dibudidayakan di Desa Banyumundu yang beriklim dingin, pada malam hari berkisar 17 derajat celcius. Dengan metode try and error selama lebih dari 2 tahun akhirnya mereka menemukan varietas lele yang kemudian dinamakan Ikan lele phyton. Kualitas lele phyton ini juga diakui oleh Dinas Perikanan Budidaya Provinsi Banten.
Sesuai dengan namanya, lele phyton memiliki bentuk kepala seperti ular phyton. Gerakannya lebih lincah dari lele dumbo dan rasa dagingnya lebih gurih, tidak lembek. Dari segi rasa, lele phyton lebih mendekati lele lokal.
Read More

Asal-usul dan Penyebaran Lele

01.36 |

Asal-usul dan Penyebaran Lele, Lele merupakan ikan tanpa sisik yang dapat ditemukan di perairan tawar di dua benua, yaitu di Benua Afrika dan Asia. Ikan ini memiliki nama internasional sama dengan ikan patin dan baung, yaitu catfish. Dinamakan catfish karena ikan ini mempunyai sejumlah kumis yang cukup panjang, mirip kumis yang dimiliki kucing.
Lele memiliki banyak nama atau sebutan. Masing-masing negara memiliki sebutan atau nama yang berbeda untuk ikan berkulit licin ini. Orang Afrika menyebutnya mali. Di Thailand, ikan ini dikenal dengan nama plamond. Di Malaysia, lele diberi nama keli. Orang Jepang menyebutnya ca tre trang, sedangkan di Sri Lanka dinamai gura magura. Bahkan dalam bahasa Inggris, ada beragam sebutan untuk ikan lele, di antaranya catfish, mudfish, walking catfish, atau siluroid.
Di Indonesia, ikan yang mampu menghirup O2 dari udara ini memiliki beberapa nama atau sebutan. Masyarakat di Pulau Jawa menyebut ikan ini dengan nama lele. Masyarakat di Sulawesi menamakannya keli atau keeling. Di Kalimantan disebut ikan pintet, sedangkan di Sumatera dinamakan ikan kalang. Jenis Iele yang ada di dunia sangat banyak. Beberapa ada yang masih bisa dijumpai, tetapi sebagian sudah sulit ditemukan. Beberapa jenis lele terdapat di kawasan Afrika, antara Iain Clarias sp., Clarias Iazera, Clarias dumerili, Clarias mosambicus, Clarias anguillaris, Clarias senegalensis, dan Clarias gariepenus.
Di Asia, penyebaran lele meliputi Thailand, Filipina, Indonesia, dan Cina. Beberapa negara di Asia,bahkan telah berhasil mengembangbiakkan atau membudidayakan ikan ini dengan memeliharanya di dalam kolam atau media pemeliharaan lainnya. Selain untuk upaya pelestarian spesies ikan, tentu saja karena ikan ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, Laos, Kamboja, Birma, India, termasuk Indonesia termasuk negara - negara di Asia yang telah berhasil membudidayakan lele.
Jenis lele yang ada di perairan Indonesia di antaranya Clarias batrachus, Clarias melanoderma, Clarias neuhoh, dan Clarias teysmani. Adapun yang dikenal dengan istilah ”lele lokal" adalah Clarias batrachus. Di antara jenis lele yang di sebut di atas, jenis inilah yang paling populer di kalangan masyarakat kita. Jenis yang lainnya, selain tidak populer, juga sulit ditemukan.
Sementara itu, nama ilmiah untuk lele dumbo yang kita kenal sehari-hari adalah Clarias gariepinus. Lele dumbo inilah - dengan segenap keunggulan yang dimilikinya – yang justru dikenal Iuas oleh masyarakat Indonesia. Selain itu, paling diminati untuk dibudidayakan di kolam konvensional atau di kolam alternatif lainnya.
Lele bertubuh bongsor ini masuk ke Indonesia pertama kaIi pada tahun 1986. Diimpor dari Taiwan melalui Bandara Soekarno - Hatta. Sejak saat itulah, perlahan tapi pasti, lele dumbo mulai dikenal masyarakat Indonesia. Mulai tahun 2002, bisa dipastikan bahwa di setiap daerah di Indonesia dapat dijumpai kolam lele dumbo. Sekarang, minat masyarakat Indonesia untuk membudidayakan ikan ini semakin tinggi. Hal ini berhubungan dengan naiknya tingkat konsumsi lele dumbo masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu. Lele dumbo kini semakin populer.
Read More